Tradisi Meron
Tradisi Meron di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah adalah upacara adat yang diselenggarakan setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun dan menjadi salah satu warisan budaya khas masyarakat Sukolilo.
Berikut Ciri Khas dari Tradisi Meron :
1. Gunungan Meron
Gunungan terbuat dari makanan tradisional seperti ampyang (jajanan dari kacang dan gula), cucur, once, dan aneka hasil bumi
Gunungan diarak keliling desa lalu dibawa ke masjid Sukolilo.
Setelah doa bersama, makanan dari gunungan dibagikan dan diperebutkan masyarakat, karena dipercaya membawa berkah dan keselamatan.
2. Asal Usul
Tradisi ini diperkirakan mulai sejak abad ke-17, pada masa Kesultanan Mataram.
Konon, Meron merupakan “tiruan” dari tradisi Sekaten yang ada di keraton Mataram. Para prajurit atau abdi dalem Mataram yang tinggal di Sukolilo memperkenalkannya, kemudian dilestarikan masyarakat setempat.
Sebelum puncak acara Meron, terdapat Meron Culture Carnival dan Ulan-ulan Carnival.
Apa itu Meron Culture Carnival?
“Meron Culture Carnival” adalah salah satu event karnaval budaya yang termasuk dalam rangkaian kegiatan Tradisi Meron di Desa Sukolilo, Pati.
Kegiatan ini menggabungkan pawai budaya, pertunjukan seni, kostum, kelompok peserta dari berbagai elemen masyarakat, sekolah, instansi dan komunitas lokal.
Karnaval tersebut biasanya diadakan sehari sebelum puncak Meron, sebagai bagian dari persiapan dan pembuka rangkaian acara.
Lokasinya di Jalan Raya Sukolilo atau ruas jalan utama Sukolilo. Kadang dipadukan dengan rute lain seperti di Pendowo Limo (bagian dari desa/perdukuhan) untuk jenis karnaval tertentu.
Pesertanya sangat beragam: sekolah (TK, SD, SMP, SMA, SMK), RT/RW/perdukuhan, instansi pemerintah, LPK, dan kelompok masyarakat.
Atraksi yang tampil meliputi: tari tradisional, marching band, parade kostum, kreativitas tema budaya lokal, kadang unsur modern seperti fashion show, juga pertunjukan lampu di malam hari (untuk varian malam).
Ada juga Ulan-Ulan Night Carnival (pawai malam dengan unsur lampu dan pertunjukan seperti naga/ular) melengkapi karnaval siang hari.
Apa itu Leang-Leong?
Leang-Leong adalah jenis pertunjukan seni yang biasanya dilaksanakan malam hari sebelum hari puncak Meron.
Bentuknya mirip pawai/arak-arakan dengan elemen-elemen kesenian rakyat. Biasanya melibatkan:
Boneka atau figur naga besar yang dimainkan beberapa orang, bisa dari bambu, rotan, kawat, atau bahan ringan lainnya.
Atraksi api obor, pawai lampu, dan hiburan rakyat sepanjang jalan desa.
Leang-Leong dilaksanakan malam pra-Meron, yakni malam sebelum hari upacara Meron puncak.
Waktu persisnya mengikuti kalender Islam, yaitu bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ‒ atau bulan Mulud, terutama menjelang tanggal Meron.
Rute pawai biasanya melewati jalan raya di Sukolilo, melibatkan warga untuk menyaksikan dan ikut serta dalam suasana.

Komentar
Posting Komentar